Saksi PKS Sebagai Pengawal Kemenangan Adang-Dani

Februari 20, 2008

PKS-Jaksel: Saksi merupakan gerbang terakhir yang mengawal kemenangan pilkada. Hari H sangat penting begitu pula peran saksi. Peran strategis saksi dalam mengamankan suara pasangan calon merupakan bagian penting untuk mencapai kemenangan dalam pilkada.

Sadar akan pentingnya peran saksi, PKS telah menggelar pelatihan saksi di tingkat kelurahan selama sebulan terakhir. Pelatihan yang bertujuan untuk membekali para saksi yang akan bertugas di TPS ini selalu ramai dihadiri oleh para pendukung Adang-Dani yang telah menyatakan bersedia untuk menjadi saksi pada saat Pilkada 8 Agustus mendatang.

Saksilah yang akan memastikan bahwa pemungutan suara berlangsung jujur dan adil. Setiap kejanggalan maupun kecurangan dan pelanggaran yang terjadi dapat dilaporkan oleh saksi dengan membuat laporan secara tertulis tentang penjelasan dan kronologi detailnya.

”Seorang saksi harus bisa bersikap tegas dan dapat berargumentasi jika terjadi pelanggaran-pelanggaran selama pencoblosan, perhitungan suara sampai kotak suara beserta isinya tiba di PPS,” tutur Ketua DPRa Petukangan Utara Hasbih.

Dalam Buku Panduan Saksi Pilkada DKI Jakarta, dipaparkan tugas-tugas saksi PKS sebagai berikut:

1. Memastikan apakah bilik suara yang disediakan dapat menjamin kerahasiaan dalam proses pemungutan suara

2. Memastikan di TPS tidak terdapat poster yang memuat ajakan untuk mendukung salah satu pasangan calon

3. Memastikan apakah kotak surat suara yang diperlihatkan benar-benar kosong dan kemudian dikunci? Apakah kotak suara terlihat dengan jelas?

4. Menulis jumlah kotak suara, surat suara, beserta jenisnya

5. Memperhatikan setiap proses pendaftaran yang berlangsung

6. Memastikan tidak ada kecurangan pada saat pendaftaran

7. Pastikan semua warga mendapatkan kesempatan untuk memilih dengan menyertakan tanda bukti P4B

8. Memastikan apakah ada orang yang namanya tidak tercantum di daftar pemilih tetapi diperbolehkan untuk memilih?

9. Memastikan apakah mereka yang ibu jari tangan kirinya telah ditamdai dengan tinta diperbolehkan untuk memilih?

10. Memastikan apakah ada orang yang berhak untuk memilih tetapi tidak diperbolehkan? Apakah ada orang yang tidak berhak untuk memilih tetapi diperbolehkan?

11. Memastikan apakah surat suara dimasukkan ke dalam kotak suara yang tepat?

12. Memastikan bahwa semua pemilih yang telah memberikan suaranya diberikan tanda khusus di ibu jari tangan kirinya

13. Berkonsentrasi penuh dan memperhatikan dengan seksama penghitungan suara

14. Mengantisipasi minimnya lampu penerangan pada saat penghitungan suara

15. Memastikan bahwa keseluruhan suara untuk pasangan calon dihitung secara benar dan mengawasi keadilan serta kejujuran dari proses penghitungan

16. Membela semaksimal mungkin suara pasangan calon PKS dari kemungkinan suara tidak sah

17. Merespon jika ada keluhan atau keberatan dari perseorangan masyarakat

18. Pastikan Anda dan saksi lainnya diperbolehkan untuk memeriksa setiap surat suara

19. Pastikan tidak ada perusakan kertas suara secara tersembunyi yang dilakukan oleh petugas KPPS misalnya dengan cara merobeknya dengan kuku, paku di meja, cincin, dll

20. Pastikan ada kesepakatan mengenai suarat suara mana yang sah dan mana yang tidak sah sesuai dengan peraturan yang berlaku

21. Pastikan mendapat salinan dari seluruh sertifikat hasil penghitungan suara TPS

22. Memastikan apakah seluruh alat-alat perlengkapan pilkada ditempatkan di paket yang benar? Apakah seluruh paket dibwa ke PPS?

23. Mengawal kotak suara sampai ke PPS (tingkat kelurahan) dan menyerahkan hasil pengamatan, pencatatan kepada skai di tingkat PPS

24. Menjelaskan kepada Saksi Pasangan Calon dari PKS di PPS mengenai pelanggaran-pelanggaran (jika ada) yang terjadi di tingkat TPS yang belum terselesaikan agar dapat dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Yang harus disiapkan oleh saksi:

1. Melakukan qiyamullail pada malam sebelum bertugas, dan berdoa agar bersih dari kecurangan sampai ditetapkannya pemenang pilkada oleh KPUD

2. Membaca Al Ma’tsurat pagi

3. Sarapan pagi

4. Berpenampilan rapi, menggunakan sepatu

5. Siapkan: buku panduan saksi, kartu pemilih & surat pemberitahuan, sirat tanda terima mandat saksi yang telah ditandatangani ketua KPPS sehari sebelumnya, alat tulis dan buku catatan yang diperlukan, serta obat-obatan pribadi jika menderita penyakit tertentu
6. Siapkan fisik dan mental untuk bertugas sampai larut malam.
Bismillaahi Allahu Akbar.. Jihad Fii Sabilillah.. Adang-Dani Menang!!!

Iklan

USAHA ISENG YANG JADI LARIS

Februari 20, 2008

Meriam Bellina:
INGIN DIKENAL SEBAGAI MADAME BROWNIES

Awalnya rasa tidak puas terhadap kafe tenda artis yang marak berdiri pada pertengahan 1998 lalu. “Usaha ini merupakan bentuk protes saya,” ujar Mer, panggilan akrabnya, ketika ditemui Sedap Sekejap di sela-sela syuting sinetron di kawasan Cibubur.

Mer merasa berdirinya kafe tenda artis memukul para pedagang kecil. Karena itulah ia berusaha memperlihatkan pada teman-temannya bahwa artis tidak perlu membuat kafe tenda yang bisa mengancam penghasilan pedagang kecil. “Kalaupun membuka usaha jangan yang mengancam pedagang kecillah,” begitu alasannya.

Lalu kenapa memilih brownies? “Soalnya brownies waktu itu masih aneh dan memiliki kelas atau level tersendiri. Brownies biasanya dijual di toko-toko tertentu yang memiliki kelas tertentu dan dikonsumsi kalangan menengah ke atas,” papar ibu beranak dua ini. Tetapi bukan itu saja alasan brownies yang dinamainya Bellina’s ini dipilih sebagai usaha. Meriam memiliki resep keluarga yang enak sekali. Resep sang papi tersebutlah yang digunakannya untuk memulai usaha brownies miliknya.

Meski memiliki resep yang bisa diandalkan, Meriam tidak dengan serta-merta berjualan brownies. “Konsepnya saya buat matang dulu. Baik dari pembuatan, pengemasan, hingga logo yang digunakan. Soalnya ada misi khusus untuk diperlihatkan pada teman-teman artis lainnya,” ungkapnya.

Sekitar bulan Agustus 1998 ia mulai memperkenalkan browniesnya pada masyarakat luas. Ia sengaja terjun langsung menjual brownies di bazar-bazar yang ada di berbagai mal di Jakarta kecuali juga membuka outlet Bellina’s di Pasaraya Blok M dan Pasar Festival di Kuningan.

Saat ini ada 4 rasa yang dibuatnya, capuccino, kismis, cokelat dan keju. Khusus brownies rasa keju dijual Rp. 28 ribu per dus. Jenis lainnya dijual dengan harga Rp. 23 ribu. Harga sejumlah itu relatif murah mengingat bahan cokelat, keju, dan almon dibeli dari luar negeri.

“Khusus untuk keju, saya sempat berganti 3 kali karena bahannya sangat mahal. Dulu sebotol kecil keju impor seperti cheesebread saja harganya 78 ribu. Apalagi setelah krismon,” ujarnya. Brownies tersebut dijual dalam ukuran besar dalam kardus berwarna emas bertuliskan Bellina’s dan potongan kecil. Kadang saat peristiwa tertentu Mer membuat bentuk khusus. Misalnya, saat Valentin lalu, ia membuat brownies bentuk hati yang menurutnya sangat laris.

Kalau kembali pada tujuannya semula, Meriam sudah bisa membuktikan kesuksesan usahanya pada rekan-rekannya sesama artis. “Kadang saya bisa, lo, memproduksi sampai 700 brownies,” kata Mer bangga menyebut angka produksi tertingginya.

Kesuksesannya membuatnya berniat meluaskan usahanya. Baik dari rasa maupun pemasaran. “Nanti akan lahir rasa yang baru, bentuk yang baru juga pemasarannya meluas di kota besar lainnya,” tutur Mer.

Jejak Kelalawar Hitam, Pembantai Muslim Poso

Februari 20, 2008

Ratusan Muslim Poso dibantai, pelakunya adalah kelompok orang terlatih bernama Kelalawar Hitam. Investigasi Sahid di lapangan menunjukkan selain dipicu persoalan politik lokal ada keterlibatan tokoh-tokoh di Jakarta.

Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan.

Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai.

Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.

Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian ummat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz , santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya.

Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing belaka.

Ilham (27) satu-satunya ustadz Pesantren Walisongo yang turut dibantai namun selamat setelah mengapung beberapa kilometer mengikuti aliran sungai Poso, menuturkan kepada Sahid, sebelum dibantai mereka mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka dikumpulkan di dalam masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo yang sudah menyerah itu dibantai. Ada yang ditebas lehernya, dipotong anggota badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke pinggir Sungai Poso.

Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian ummat Islam, khususnya warga Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di Sungai Poso dan terbawa entah sampai ke mana. Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian itu.

Seorang warga Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Syahrul Maliki, yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso dan terletak sembilan kilometer dari ladang pembantaian, menuturkan kepada Sahid, Dari pagi hingga siang saja, saya menghitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus, berikutnya saya tidak menghitung lagi, katanya. Sementara Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat yang ditemukan di Sungai Poso tidak kurang dari 165 orang.

Tidak hanya lak-laki dewasa, banyak pula yang perempuan, orang tua, dan anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan dengan anak-anak. Ada yang cukup diikat, ada pula yang dimasukkan karung, kata Syahrul. Sebagian besar mayat sudah rusak akibat siksaan.

Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren diteror oleh Pasukan Merah ini. Komplek Pesantren Walisongo sering dipanah. Hingga saat ini bekas panah tersebut masih terlihat jelas.

Pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal sebagai Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Karena itu pula mereka sering disebut pula sebagai Pasukan Merah. Pembataian itu puncak dari hubungan ummat Islam dan Kristen yang kurang harmonis di kawasan itu.

Tercatat sekitar 200 – 400-an orang yang tewas terbantai.

Dalam laporannya, pihak gereja melalui ‘Crisis Center GKST untuk Kerusuhan Poso’ mengakui dikalangan mereka ada kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja ini. Mereka menyebutnya sebagai ‘Pejuang Pemulihan Keamanan Poso’.

Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang. Mereka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin. Karena itu sebagian besar korbannya adalah orang-orang muslim.

Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaian juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei. Dari arah barat hingga Tamborana.

Temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) Ujungpandang yang melakukan investigasi di Poso menunjukkan adanya keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Buktinya Sebelum mereka melakukan penyerangan, mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua Kompak Ujungpandang.

Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di gereja Silanca (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman Puskesmas depan Gereja Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada para perusuh. Pemberkatan ini memberikan semangat dan kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat Islam.

Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui telah membumi hanguskan seluruh perkampungan ummat Islam dan membantai masyarakatnya, Pendeta R Damanik dan Advent Lateka mengadukan ummat Islam sebagai provokator.

Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal penduduknya mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang beserakan.

Penyerangan terhadap ummat Islam yang berlangsung sejak tanggal 23 Mei lalu, merupakan pertikaian ketiga antara Islam Kristen di Poso. Pertikaian pertama berlangsung pada Desember 1998. Enam belas bulan kemudian, 15 April 2000 pertikaian meledak lagi, yang dipicu perkelaian pemuda Kelurahan Kamayanya (muslim) dengan Lambogia (Kristen).

Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang bergabung dalam pasukan Kelelawar Hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo asal Flores menyerang kampung Muslim Kayamanya. Mereka memukul-mukul tiang listrik hingga memancing kemarahan ummat Islam. Selanjutnya mereka mengaiaya ummat Islam di situ dan membunuh Serma Komarudin.

Ummat Islam yang marah mengejar Pasukan Kelelawar Hitam yang lari ke Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi di gereja itu ummat Islam yang marah membakar gereja yang dijadikan tempat persembunyian itu.

Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian adalah konflik politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso pada Desember 1998 merupakan salah satunya. Herman Parino, tokoh Kristen, gagal merebut jabatan. Namun Herman Parino dan para pendukungnya menuduh Arif Patangga, bupati yang hendak digantikannya, muslim, merekayasa gagalnya Parino.

Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk menyerang rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, para pendukung Patangga tidak diam dan bersiap menyambut. Bentrokan tidak terelakkan lagi. Dua hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena. Dalam kerusahan itu polisi langsung menangkap tokoh dari kedua belah pilah, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik kandung Arif Patangga yang dianggap memprovokasi massa.

Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh Kristen yang dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi Herman lantas dijatuhi hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Poso. Kasus inilah yang menjadi api dalam sekam. Maka ketika terjadi perkelaian pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan.

Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000 pasukan merah melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan muslim. Pertikaian tidak hanya sebatas para pendukung Herman Parino dan Arif Patangga. Perkampungan Muslim yang tidak ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya ikut dihancurkan, warganya dibantai, perempuannya diperkosa.

Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan bahwa kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. Temuan di lapangan menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI dalam melatih pasukan merah. Karena itulah pasukan merah sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong.

Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepentingan terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang kuat. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya kerusuhan di Poso ini.

Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya persoalan gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya karena perebutan kursi bupati kenapa ummat Islam yang dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan ummat Islam dari bumi Poso.

Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak kerusuhan itu ribuan ummat Islam menjadi pengungsi di negerinya sendiri.

Haryono, laporan Munanshar dan Pambudi (Poso)

Baca artikel dari situs asal
From: Faisal <faisal@rad.net.id>

GOR Saparua, Tea Huis, Hingga AACC

Februari 20, 2008

SEORANG pengunjung event musik “underground” melakukan aksi “moshing” saat menyaksikan band favoritnya tampil di Lapangan Persib Kota Bandung, pertengahan tahun 2005 lalu.* ROBY NUGRAHA/”PR”“UNDERGROUND” adalah GOR Saparua. GOR Saparua adalah underground. Seberapa banyak dari Anda sulit membedakan kedua kata di atas. Mana yang diterangkan, mana yang menerangkan.

Ya, underground tentunya tak lepas dari peran GOR Saparua yang menjadi saksi bisu masa keemasan scene (baca: pergerakan) musik itu di Bandung. Kita tentu mengingat betapa ingar bingar musik cadas bergenre punk, hardcore, dan grindcore begitu masif di Bandung sekitar 14 tahun silam.

Bagi Anda yang masih ingat, mungkin kerap menemukan sosok lelaki kurus, berambut panjang sepinggang, dan mengenakan kaos tangan panjang warna hitam bertuliskan nama band di sepanjang lengannya. Tak lupa, mereka memakai pula jeans standar hitam atau celana cargo hitam, boot hitam, dan berkerumun hampir tiap akhir pekan di bilangan GOR itu.

Bila ditelisik lebih jauh lagi, di bibir panggung beberapa puluh penggemar musik genre ini segera merapat saat band kegemarannya tampil di panggung. Pogo untuk band punk, headbang untuk hardcore, hingga ber-moshing ria saat band grindcore mengentak dengan tempo tinggi dan ketukan–bass drum serta rimshot snare drum–yang rapat.

Di dalam, jangan tanya suasananya seperti apa. Bising bukan main. Dada berdegup kencang. Telinga pekak. Sulit untuk diam bertahan di tengah “panasnya” suasana.

Seusai sebuah lagu dibawakan, mendadak tercipta kondisi tertib. Sontak para penonton mengacungkan kepalnya ke langit. Riuh pujian pun tercipta. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi untuk band yang tampil. Dan begitulah, “ritual” itu terus terjalin dari akhir pekan ke akhir pekan lainnya di era pertengahan 90-an. Saparua pun menjadi venue wajib bagi pergelaran musik cadas saat itu. Mulai dari acara kecil, sedang, hingga besar. Maka, Saparua pun terkenal ke seluruh nusantara sebagai tempat paling legendaris bagi genre musik ini.

Apalagi, saat acara akbar seperti Hollabalo 1994, Bandung Berisik 1995, Bandung Underground 1996, Gorong-Gorong 1997, dan beberapa acara yang digelar setelahnya. Bandung menjadi pusat pertumbuhan musik genre ini, yang lantas menular ke kota-kota lainnya di Indonesia. “Tahun 1998, kita maen di Saparua. Yang nonton ada 4.000-an. Pokoknya kapasitas penuh lah. Pol banget“, kata vokalis Jeruji, yang akrab disapa Dempak, saat ditemui di Common Room, Jln. Kyai Gede Utama, Kota Bandung, Minggu (10/1). Jumlah tersebut saat itu belumlah mencapai klimaksnya. “Apalagi sekarang“, tambah Dempak menimpali.

Ya, apa yang disebut Dempak memang terbukti. Bayangkan saja, sepuluh tahun lalu terpaan media belum seperti saat ini. Internet belum menjadi hal yang primer. Radio belum banyak yang memutarkan lagu-lagu dari band indie seperti sekarang. Kebanyakan stasiun televisi pun nampak masih “alergi” menayangkan video klip band-band lokal.

Berkembangnya terpaan lewat kian mudahnya akses rekaman, akses duplikasi, serta akses publikasi di berbagai media, tentunya berjalan linier dengan jumlah penggemar.

Berdasar catatan yang dikompilasi komunitas ini, Indonesia tergolong lima besar negara yang memiliki komunitas underground terbesar di dunia.

Belum cukup, scene underground Indonesia secara keseluruhan juga terbilang berpengaruh di Asia. Editor majalah Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto, berkata, “Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang diambil untuk kemudian dibuat film sekuel `Metal Headbangers Journey` karya sutradara asal Kanada. Di Asia, negara lain yang diambil adalah Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Ini menjadi bukti betapa masifnya scene musik underground di negara ini.

Di satu sisi, kemajuan merupakan hal yang menggembirakan. Namun, di sisi lain, kebanyakan band di Bandung justru mengeluh. Bertambahnya jumlah penggemar ternyata tak sebanding dengan kapasitas venue yang biasa mereka gunakan.

Belum lagi, hal-hal lainnya yang cukup mengganggu. “Mengurus perizinan untuk menggelar konser di GOR Saparua makin sulit“, kenang Dempak.

Alhasil, mereka lantas bergerilya mencari tempat lainnya di Bandung. Tentunya, tempat yang mendekati definisi representatif. Teater terbuka dan teater tertutup Taman Budaya Dago atau Dago Tea Huis lantas menjadi pilihan. Tempat ini lantas menjadi legenda berikutnya setelah Saparua. Namun, berubahnya kebijakan pengelola ditambah harga sewa yang tak sebanding dengan pemasukan, perlahan membuat Tea Huis mulai ditinggalkan. Di era 2000-an, acara-acara seperti ini lantas mulai meredup.

Ternyata, industri musik underground pun ternyata memicu pertumbuhan industri lainnya, seperti industri distro (kependekan dari distribution) dan clothing. Perlahan tapi pasti, ketiga industri ini ternyata tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Mereka pun saling mendongkrak. Dimulai dari distro Harder dan Riotic, musik underground yang laksana “berhibernasi” siap menggeliat kembali.

Pada bagian lain, “adik kandung” musik underground, yang lebih bergenre pop dan retro, mulai bermunculan kembali setelah sebelumnya sempat mengalami nasib serupa. Era 2004, bersama-sama dengan industri rekaman indie label yang kian menggeliat, menjadi kebangkitan kembali semua genre musik ini.

Akan tetapi, permasalahan selanjutnya tetaplah sama, mereka kekurangan venue sebagai tempat berekspresi. Hanya orang-orang kreatiflah yang juga mampu berkreasi di saat sulit.

Acara pun kemudian digeser ke Asia Africa Culture Center (AACC), YPK Naripan, Dezon, Parahyangan Plaza, STSI, Unpas Setiabudhi, hingga ke kafe-kafe yang berkapasitas lebih kecil. Sebut saja, kafe Laga Asia Afrika, TRL, hingga Classic Rock Trunojoyo.

Kesulitan ini pun dirasakan mantan vokalis Puppen, Arian13, yang kini menjadi vokalis Seringai. “Di Bandung, memang enggak ada gedung konser yang representatif. Dari dulu anak-anak nunggu realisasi dari pemerintah. Tapi, itu kayak nunggu sapi break dance. Pemerintah kayaknya enggak apresiasi scene musik ini. Padahal dampaknya ke sektor perekonomian terbilang besar“, kata Arian13.

Ia lantas mencontohkan tempat yang terbilang representatif yang pernah dipakai Seringai bermain di kota lain. “Di Yogyakarta, ada Liquid Cafe yang berkapasitas 700-an pengunjung. Hawa Yogya kan panas, tapi enggak tahu kenapa kita nyaman banget maen di sana. Di Jakarta, Viky Sianipar Centre juga cukup nyaman“, tambah dia.

Khusus di Bandung, Arian13 berpendapat ada baiknya meniru 924 Gilman Street di Berkeley, San Fransisco (baca, “Pelajaran Berharga dari Berkeley“). Misalnya, ada gedung kosong milik pemerintah di Bandung, dan dipercayakan pengelolaannya kepada komunitas secara kolektif dan kelembagaan.

Berkaca pada kejadian “Sabtu Kelabu”, adakah pemikiran kolektif ke arah sana?

Penulis: Roby Nugraha
Sumber: Pikiran Rakyat

Produk Kriya Bandung Sudah Diincar Eropa

Februari 20, 2008

KETUA Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Indonesia Jawa Barat Ny. Danny Setiawan (kanan) didampingi Ketua Dekranasda Kota Bandung Ny. Dada Rosada mengunjungi salah satu stan khusus kerajinan bordir usai membuka Pameran Kriya Pesona Bandung II di Graha Manggala Siliwangi Bandung, Selasa (3/7). Pameran yang menampilkan berbagai produk kerajinan cendera mata terbaik di Kota Bandung ini berlangsung hingga Jumat (6/7).*M. GELORA SAPTA/”PR”BANDUNG, (PR).
Produk kerajinan Kota Bandung yang dipamerkan pada Kriya Pesona Bandung (KPB), mulai diincar peminat dari luar negeri, terutama negara Asia dan Eropa. “Hari ini, saat pembukaan, sudah ada dari kamar dagang Italia yang menanyakan potensi kerajinan, kekhasan produk, dan kualitas produk. Ini bertanda ada peluang untuk pasar ke Eropa, khususnya Italia. Belum ada kesepakatan, tapi akan ditindaklanjuti,” ungkap Sekretaris Dekranasda Kota Bandung, Ema Sumarna saat ditemui usai pembukaan Kriya Pesona Bandung di Manggala Siliwangi Bandung, Selasa (3/7). Pembukaan dilakukan Ketua Dekranasda Jabar, Hj. Rina Danny Setiawan. Hadir pula empat Dubes, masing-masing Swedia, Suriname, Piliphina, dan Chili.

Menurut dia, ada kemungkinan kamar dagang Italia tertarik melakukan kerja sama ke arah ekspor sehingga perlu ditindaklanjuti. “Pameran ini akan membuka peluang transaksi yang mampu menambah pendapatan daerah,” kata Ema.

Sementara itu, Hj. Rina Danny Setiawan, mengharapkan para pelaku usaha kerajinan di Kota Bandung mampu bersaing tidak hanya di pasar lokal, namun juga nasional, bahkan internasional. Dengan demikian, mampu menambah nilai produk.

“Lewat pemanfaatan teknologi internet, para pelaku usaha bisa membuka peluang pasar dengan mencari informasi inovasi produk baru dan mencari pasar baru,” ungkapnya. Ditambahkannya pula, peningkatan nilai tambah tersebut nantinya akan menyerap tenaga kerja sekaligus melestarikan seni dan budaya Jabar.

Ketua Kadin Kota Bandung, Deden Hidayat menuturkan, jika melihat potensi kerajinan di Kota Bandung, para stakeholder seharusnya lebih giat mempromosikan potensi yang ada. Sebab, Kota Bandung sendiri baik di pasar lokal maupun internasional dikenal sebagai pusat industri kreatif, khususnya handicraft dan fashion. “Sudah semestinya para perajin mulai melakukan perkembangan pasar. (A-161)***

Sumber: Pikiran Rakyat/ Dekranasda Cirebon

Produksi Rumah Tangga Meningkat Perlu Promosi dan Pengembangan Pasar

Februari 20, 2008

Pertumbuhan industri kecil di bidang kerajinan tangan yang dikerjakan ibu-ibu rumah tangga semakin meningkat 10- 20 persen per tahun. Biaya kebutuhan hidup yang semakin besar mengharuskan ibu rumah tangga mencari sumber penghasilan lain untuk keluarga.

Menurut Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jabar Ina Primiana, semakin banyak ibu rumah tangga terjun dalam bisnis kerajinan tangan. Kondisi perekonomian memaksa mereka mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Pertumbuhannya sangat pesat, perbandingan laki-laki dan perempuan satu banding dua. Namun, produksi mereka masih barang-barang untuk memenuhi kebutuhan domestik keluarga, seperti kerajinan tangan hiasan rumah, aksesori, dan fashion“, kata Ina, Selasa (20/6) di Bandung.

Sekretaris Asosiasi Ekspor dan Produsen Handycraft Indonesia (ASEPHI) Jabar Elina Farida Eksan Alfonso menjelaskan, pasar utama produk kerajinan tangan itu adalah ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitarnya.

Saat ini, kata Elina, 70 persen perajin kerajinan tangan adalah perempuan, atau ibu-ibu rumah tangga. Bisnis kerajinan tangan ini dipilih ibu rumah tangga karena pekerjaan ini tidak mengharuskan mereka meninggalkan rumah selama bekerja.

Modal usaha bisnis ini bergantung pada kapasitas produksi, jenis bahan baku, peralatan dan mesin yang digunakan, serta lama produksinya. Menurut Elina, modal bisnis kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga Rp 5 juta-Rp 10 juta.

Balik modalnya bergantung modal dan jenis produksinya. Yang modal kecil, tidak menggunakan mesin, BEP (break event point)-nya sekitar enam bulan sampai setahun. Yang pakai mesin butuh waktu tiga tahun“, katanya.

Sektor Riil
Koko Zakaria, Humas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, mengakui, dalam setahun perempuan yang berbisnis kerajinan tangan meningkat 10-20 persen. Umumnya perajin di kota memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan usahanya, seperti pendidikan keramik atau menjahit, sehingga peningkatan keterampilan mengarah pada kualitas dan diversifikasi produk.

Sementara menurut Kepala Bidang Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Bandung Ananda Pulungan, bisnis ibu-ibu rumah tangga mampu meningkatkan sektor riil dan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.

Ananda menjelaskan, permasalahan utama yang dihadapi ibu-ibu rumah tangga bukan modal, melainkan manajerial produksi dan pemasaran. Sistem produksi yang dilakukan masih berorientasi pesanan, tidak berdasarkan pada standar mutu dan kapasitas produksi. Manajemen keuangan tidak ketat antara keuangan perusahaan dan uang pribadi. Perajin yang mampu mengekspor, kata Ananda, adalah yang telah memanfaatkan teknologi dan manajemen pemasaran yang luas serta berkesinambungan.

Sebenarnya, tutur Ina, kerajinan tangan asal Jabar diminati pasar luar negeri. Namun, belum dilakukan promosi dan penyediaan pasar untuk memamerkan produk tersebut. “Di Jabar peluang masih besar, tetapi belum ada pasar yang khusus menjual atau memamerkan produk kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga itu. Ibu-ibu itu tidak bisa terbebani dengan masalah pemasaran karena waktunya habis untuk berproduksi“, kata Ina. (THT)

Sumber: Kompas/ Disperindag Jawa Barat

Korban Perampok Bersepeda Motor

Februari 20, 2008

Polsekta Medan Kota hingga Minggu sore kemarin, terus melacak keberadaan dua perampok spesialis bersepeda motor. Pelacakan itu dilakukan personel Reskrim Polsekta Medan Kota atas laporan pengaduan, Endang Silaban (24), penduduk Jalan Jamin Ginting Medan, yang mengaku menjadi korban dari perampokan dua pria mengendarai sepeda motor.Peristiwa itu dialami korban, Sabtu sekitar pukul 22.30 WIB di seputaran Jalan Merbabu. Korban yang tengah melintas di tempat kejadian perkara (TKP) dengan berjalan kaki, dikejutkan dengan sentakan tangan seseorang pada tas sandang miliknya.

Tanpa sempat memberikan perlawanan, tas miliknya yang berisi uang tunai puluhan ribu rupiah dan satu unit handphone sudah berpindah tangan. Menurut pengakuan korban di Polsekta Medan Kota ketika membuat laporan pengaduan, pelakunya dua pria mengendarai sepedamotor, yang langsung pergi begitu berhasil membawa tas miliknya.

Sumber : (Monang) Medan Bisnis, Medan

Kuiper Belt Object

Februari 20, 2008

Apakah pluto benar-benar sebuah planet? Ini bukanlah pertanyaan yang mengada-ada. Memang sejak berpuluh-puluh tahun, baik para astronom maupun masyarakat awam beranggapan bahwa Pluto adalah planet ke-9 dalam tata surya kita. Namun demikian, sejak tahun 1992 pandangan tersebut perlahan-lahan mulai berubah ketika para astronom menyadari bahwa selepas orbit Neptunus terdapat sebuah daerah orbit dimana didapati sekitar 70.000 objek kecil, beku berbalut es yang bergerak lambat mengorbit matahari.

Sekumpulan objek yang mengorbit pada daerah yang kemudian dinamai sebagai Sabuk Kuiper Belt itu kemudian diberi sebutan sebagai Kuiper Belt Object (juga dikenal sebagai Trans Neptunian Object), mengambil nama seorang astronom Belanda-Amerika, Gerard P Kuiper yang pada tahun 1951 mempelopori gagasan bahwa tata surya kita memiliki anggota yang letaknya sangat jauh.

Akan halnya Pluto, objek yang belakangan diketahui memiliki satelit alam yang dinamai Charon ini kemudian menjadi ajang perdebatan diantara para astronom. Diantara semua planet anggota tata surya, Pluto memang memilki beberapa ciri yang ganjil. Selain ukurannya yang tergolong “mini” dibandingkan planet-planet lainnya, garis edarnya yang sangat lonjong juga eksentrik, dimana dalam periode tertentu garis edar Pluto memotong orbit Neptunus menjadikan Neptunus sebagai planet terluar dari tata surya. Pluto juga diketahui memiliki massa yang sangat kecil, kurang lebih hanya 1/400 massa planet Bumi. Tidak heran, beberapa astronom lebih suka menggolongkan objek yang ditemukan oleh Clyde Tombaugh pada tahun 1930 berdasarkan posisi yang diperhitungkan oleh Percival Lowell ini sebagai Objek Kuiper Belt yang terbesar diantara objek-objek sejenisnya. Walaupun masih menyisakan ketidak puasan, “krisis identitas” ini akhirnya mereda ketika pada bulan Februari 1999, The International Astronomical Union (IAU) menetapkan bahwa Pluto tetap digolongkan sebagai sebuah planet.

Kembali kepada Objek Kuiper Belt, objek ini ternyata menyimpan banyak hal yang menarik perhatian para astronom untuk menelitinya. Pada Desember 2000, saat meneliti objek dengan nomor katalog 1998 WW31, astronom Christian Veillet dan dua koleganya menemukan bahwa objek yang ditemukan dua tahun sebelumnya ini memiliki pasangan yang saling mengedari (binary object). Hasil pengamatan menggunakan teleskop Canada-France-Hawaii yang berdiameter 3,6 meter di Hawaii ini telah dipublikasikan akhir April 2001 dalam IAU Circular 7610.

Sementara itu, sebuah objek Kuiper Belt yang dinamai Varuna yang ditemukan pada November 2000 kini diketahui memiliki ukuran yang cukup besar. Dibandingkan dengan diameter Pluto (2.200 km) dan Charon (1.200 km), Diameter Varuna yang sekitar 900 km itu cukup memperkecil “gap” dalam hal ukuran antara Pluto dengan objek-objek Kuiper Belt yang sudah ditemukan sebelumnya yang rata-rata berdiameter hanya sekitar 600 km.

Hal-hal menarik lain berkaitan dengan Kuiper Belt Object diharapkan makin tersingkap saat fasilitas teleskop infra merah yang direncanakan akan diluncurkan oleh pesawat ulang alik pada tahun 2002 mulai beroperasi. Instrumen ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai ukuran objek-objek anggota tata surya yang letaknya terbilang jauh.

Dampak Negatif Kemajuan Tehnologi Terhadap Pola Tingkah Laku Manusia

Februari 20, 2008

Nama & E-mail (Penulis): Beny Suntoyo
Saya Masyarakat di Ponorogo
Tanggal: 24 Oktober 2003
Judul Artikel: DaIpak Negatif Kemajua Tehnologi Terhadap Pola Tingkah Laku manusia
Topik: Tingkah Laku Mmanusia Pasca Kemajuan Tehnologi

PENDAHULUAN
Perkembangan yang begitu pesat akhir-akhir ini, membuat kehidupan semakin mengasyikkan, penuh harapan, memuat sejuta janji, dan sekaligus tantangan. Antuisme terhadap perkembangan dan kemajuan bukan hanya mewarnai kehidupan manusia dewasa ini. Tapi sudah merupakan kewajaran, sehingga hampir boleh dikatakan bahwa umat manusia di seluruh penjuru dunia merasa tidak bisa hanya berpangku tangan menjadi penonton dan menunggu hasil untuk mendapatkan cipratan perkembangan dan kemajuan. Perkembangan yang begitu dasyat ini merupakan hasil karya manusia sendiri selama berabad-abad dalam arti bahwa terjadinya perkembangan dan kemajuan yang semakin laju ini bukanlah tanpa sejarah. Kerja kerasnya manusialah yang menghasilkan terobosan sistem kehidupan baru yang mengharuskan untuk selalu berlomba-lomba untuk menciptakan yang lebih dari yang lain.

Namun, keadaan demikian tidak selalu membawa dampak yang serba enak dan menentramkan. Hingar bingarnya kehidupan semakin terasa menjadi tantangan kalau bukan kegaduhan.

Akibat yang nyata adalah manusia dewasa ini, baik secara individu maupun sebagai manusia secara keseluruhan, ditantang untuk menentukan tempatnya di dalam gerak maju kehidupan yang semakin laju tidak mengenal henti apalagi mundur.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, siapkah manusia dalam menghadapi kemajuan zaman ini ?. Bagi mereka yang secara moril spirituil, serta fisikal telah siap, maka mereka relatif akan mampu mengikuti arus, serta akan menjadikan kemajuan itu sebagai motivasi hidup untuk menggapai cita-citanya.

Sepintas bisa dilihat untuk menghadapi semua itu perlu adanya keseimbangan antara jiwa dan akal pikiran, sehingga informasi yang masuk dapat tersaring sebelum adanya aplikasi dari orang tersebut. Penulis pikir gambaran diatas tidak terlalu jauh untuk dijadikan landasan masalah sebagai batu loncatan untuk menuju tema yang sebenarnya, yaitu “Kriminalitas sebuah Realitas Sosial” Secara bahasa, kriminalitas berasal dari kata crime yang artinya kejahatan. Sehingga criminal bisa diartikan sebagai orang yang berbuat kejahatan. Dari aspek historis kriminalitas ialah, jika seorang melanggar peraturan atau undang-undang pidana dan ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan serta dijatuhi hukuman. Dalam hal ini, jika seorang tidak dijatuhi hukuman, berarti orang tersebut belum dianggap sebagai penjahat.

Memang terlalu didi kalu kita mngatakan bahwa perbuatan kejahatan itu terlahir dari sebuah kemajuan zaman, bahkan mungkin ada yang menolak anggapan kita. Namun kita juga tidak bisa mengatakan bahwa anggapan orang lain itu terlalu benar. Karena realitanya yang terjadi, semakin tinggi tingkat kemajuan yang ada, semakin tinggi pula tingkat kriminalitas yang terjadi. Kalaupun manusia mengalami kegagalan dalam penyesuaian diri atau berbuat nyimpang dengan sadar atau tidak sadar dari norma-norma yang berlaku dalan masyarakat dan perbuatanya itu tidak dibenarkan oleh masyarakat maka itu juga bisa disebut kriminalitas. Kalaupun dalam kemajuan ekonomi seseorang dianggap merugikan orang lain dengan membebankan kepentingan ekonominyakepada masyarakat sekelilinya dan dianggap sebagai penghambat bagi kebahagiaan orang lain maka itu juga disebut kriminalitas Pada pembahasan kali ini penulis mengambil beberapa kasus yang menjadi kecenderungan seseorang dibeberapa tempat yang menjadi salah satu unsur kriminalitas. Misalnya pencurian dan perampokan, apa yang menyebabkan tindakan kriminalitas itu dan bagaimana dampaknya bagai masyarakat sosial serta bagaimana cara menanggulanginya.

PEMBAHASAN
Dengan status manusia sebagai makluk yang sempurna dibandingkan dengan makluk yang lain, maka manusia itu mempunyai kecenderungan yang dalam Islam bisa diartikan sebagai fithroh. Manusia dilahirkan dalam keadaan fithroh-suci-, namun fithroh bisa juga diartikan sebagai potensi untuk berbuat sesuatu. Maka kalau kita hubungkan dengan kriminalitas-pencurian dan perampokan- untuk bisa menjadi baik dan jahat lingkungan sosiallah yang membentuk watak manusia itu. Dari zaman dulu hingga sekarang ternyata kebaikan dan kejahatan itu berkembang bersama, seperti adanya siang dan malam, langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, maka kebaikan dan kejahatan tidak selalu bisa kita pisahkan apalagi kalau setiap individu dalam masyarakat mempertahankan kebenaran relatif-merasa pendapatnyalah yang paling benar- dalam berinteraksi sosial. Tidak selamanya orang baik itu tidak pernah berbuat salah dan tidak selamanya pula orang yang dianggap jahat itu tidak mempunyai sifat baik. Dari sinilah apa yang penilis maksud bahwa kebaikan dan kejahatan berjalan beriring.

Sementara itu kejahatan yang terjadi pada masa sekarang ini sudah sangat meresahkan masyarakat, ambilah contoh misalnya pencurian dan perampokan yang terjadi dibeberapa daerah yang ada di negara kita, baik dalam skala kecil untuk perorangan dan kelompok maupun dalam skala besar untuk perseorangan dan kelompok.

Alasan mereka baik secara individu maupun kelompok dalam skala kecil dan besar yang jelas sangat bervariasi. Barangkali kita sudah sering mendengar atau melihat berita-berita yang menyajikan tindak kriminalitas – pencurian dan perampokan – dalam surat kabar maupun televisi yang secara konstan tidak ada henti-hentinya orang untuk berbuat kejahatan.

Faktor apasih yang menyebabkan tindakan kriminalitas tersebut ?. Penyebab terjadinya kriminalitas – pencurian dan perampokan – dari aspek sosial – psikologi – adalah faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen adalah dorongan yang terjadi dari dirinya sendiri, seperti sudah penulis singgung diatas bahwa kebenaran relatif itu relatif bisa menciptakan suatu sikap untuk mempertahankan pendapatnya – diri – atau egosentris dan fanatis yang berlebihan. Jika seorang tidak bijaksana dalan menanggapi masalah yang barang kali menyudutkan dirinya, maka kriminalitas itu bisa saja terjadi sebagai pelampiasan untuk menunjukan bahwa dialah yang benar. Sementara faktor eksogen adalah faktor yang tercipta dari luar dirinya, faktor inilah yang bisa bdikatakan cukup kompleks dan bervariasi. Kesenjangan sosial, kesenjang ekonomi, ketidankadilan dsb, merupakan contoh penyebab terjadinya tindan kriminal yang berasal dari luar dirinya.

Pengaruh sosial dari luar dirinya itu misalnya, ajakan teman, tekanan atau ancaman pihak lain, minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang yang membuat ia tidak sadar. Pengaruh ekonomi misalnya karena keadaan yang serba kekurangan dalam kebutuhan hidup, seperti halnya kemiskinan akan memaksa seseorang untuk berbuat jahat.

Dampak dari kriminalitas itu tidak saja merugikan indivdu itu sendiri dan orang lain melainkan akan melahirkan tesa kejahatan dan antitesa kejahatan yang baru serta berkelanjutan. Dari uraian diatas kiranya perlu adant sebuah formula untuk menanggulangi terjadinya tindak kriminalitas. Secara konsepsial usaha pembinaan terhadap pelaku kejahatan adalah dengan memasukan unsur-unsur yang terkait dengan mekanisme peradilan pidana dan partisi masyarakat, antaralain;
[ Peningkatan dan pemantapan aparat penegak hukum yaitu meliputi pemantapan organisasi, personal, sarana, prasarana,untuk dapat mempercepat penyelesaian perkara-perkara pidana.
[ Perundang-undangan berfungsi untuk menganalisis dan menekan kejehatan dengan mempertimbangkan masa depan.
[ Mekanisme peradilan yang efektif dan efisien (memenuhi sifat-sifat : cepat, tepat. Murah dan sederhana).
[ Koordinasi antara aparatur penegak hukum dengan aparatur pemerintah lainya yang saling berhubungan atau saling mengisi untuk meningkatkan daya guna penanggulangan kriminalitas.
[ Partisipasi masyarakat untuk membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangan kriminalitas.

Disamping upaya-upaya tersebut diatas, yang terpenting adalah upaya yang bersifat preventif atau pencegahan, yaitu dengan jalan menyadarkan atau menekan terhadak hal-hal yang dapat menimbulkan kejahatan. Disinilah peran moral dan agama untuk menutun manusia kepada jalan yang benar.

Salah satu contoh kecenderungan manusia untuk melakukan pencurian dan perampokan dibeberapa tempat.

KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa kriminalitas adalah suati tindakan yang tidak terpuji, yang akibatnya dapat merugikan diri sendiri, orang lain serta akan melahirkan kejahatan baru. Hal itu disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor endogen yang muncul dari sikap egonya diri sendiri, dan faktor eksogen yang muncul dari luar dirinya semua itru bisa terjadi dari pengaruh kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, ketidakadilan. Adapun cara-cara penanggulanganya dengan cara perbaikan sistem peradilan yang ada di negara kita, pelayanan yang cepat, murah dan sederhana serta peningkatan penyuluhan dan upaya pencegahan yang bersifat kontinuitas.

“Pionir” Penjelajahan Antar Planet

Februari 20, 2008

Sinyal dari Pioneer 10, wahana antariksa pertama yang melintasi planet Jupiter akhirnya kembali terlacak setelah sebelumnya menghilang selama delapan bulan. Sinyal yang dikirim oleh wahana yang kini berada lebih dari 7 milyar mil dari bumi (sekitar 12,6 milyar km), dalam pengembaraan keluar tatasurya itu diterima oleh stasiun pelacak di Madrid, Spanyol pada 28 April 2001.

Pioneer adalah nama yang diberikan untuk serangkaian wahana antariksa untuk eksplorasi tata surya yang diluncurkan oleh Amerika Serikat. Empat wahana Pioneer yang pertama, diluncurkan dalam tahun-tahun 1958 dan 1959 dengan tujuan Bulan dan kesemuanya menemui kegagalan. Pioneer 5 sampai 9 diluncurkan antara tahun 1960 dan 1968 merupakan wahana antarplanet dengan misi pengamatan kegiatan Matahari.

Pioneer 10 diluncurkan pada tanggal 2 Maret 1972, dengan Roket peluncur Atlas/Centaur/TE364-4. Peluncurannya menandai penggunaan untuk pertama kalinya kendaraan peluncur bertingkat tiga. Roket tingkat ketiga dibutuhkan untuk meluncurkan Pioneer 10 pada kecepatan 51,810 km/jam yang dibutuhkan untuk terbang ke Jupiter, cukup cepat untuk mencapai Bulan dalam waktu 11 jam dan melintasi orbit planet Mars dalam waktu hanya 12 minggu. Hal ini mencatatkan Pioneer sebagai benda buatan manusia tercepat yang meninggalkan Bumi.

Pioneer 10 mencapai Jupiter pada jarak 130.354 km dari permukaan awan planet raksasa tersebut pada 3 Desember 1973. Dalam perlintasannya dengan Jupiter, Pioneer 10 mengirimkan gambar jarak dekat (close-up) pertama dari planet tersebut. Selepas planet Jupiter, Pioneer 10 diarahkan keluar dari tata surya dengan misi untuk mempelajari partikel energi dari matahari (juga dikenal sebagai angin surya) dan sinar kosmis yang memasuki wilayah tata surya kita di galaksi Bimasakti.

Akan halnya Pioneer 11, wahana yang diluncurkan pada 5 April 1973 tersebut berhasil mengambil gambar dari bintik merah di permukaan Jupiter yang diperkirakan menandai lokasi sebuah badai besar yang permanen dalam atmosfer Jupiter pada tanggal 2 Desember 1974 dan juga berhasil mendeteksi massa dari salah satu bulan Jupiter, Callisto. Pioneer 11 melanjutkan perjalanannya menuju Saturnus yang berhasil dicapai pada 1 September 1979 dan terbang sejauh 21.000 km dari Saturnus serta mengambil gambar jarak dekat yang pertama dari planet Tersebut.

Selepas Saturnus, Pioner 11 melanjutkan pengembaraannya keluar dari tata surya hingga pada bulan September 1995 ketika sumber tenaganya mulai melemah, Pioner 11 tidak dapat lagi melakukan observasi ilmiah sehingga operasi rutin misinya dihentikan. Saat itu Pioneer 11 berada pada jarak 6,5 milyar km dari Bumi dimana sinyal radio yang merambat dengan kecepatan cahaya membutuhkan waktu lebih dari 6 jam sebelum mencapai bumi, sementara pergerakan bumi tidak dapat dicakup oleh antena yang ada pada Pioneer 11. Komunikasi dengan Pioneer 11 terhenti sama sekali pada bulan November 1995. Wahana tersebut tidak dapat diarahkan kembali ke Bumi karena kurangnya sumber daya. Tidak diketahui apakah hingga saat ini Pioneer 11 masih mengirimkan sinyalnya. Sejauh ini tidak ada rencana untuk melakukan upaya pelacakan.